Pengamat Pendidikan: Pendidikan Indonesia Suram 18 Bulan Nadiem Memimpin Hanya Membuat Kegaduhan, Bagaimana Tanggapan Bapak Ibu Guru ? -->

Pengamat Pendidikan: Pendidikan Indonesia Suram 18 Bulan Nadiem Memimpin Hanya Membuat Kegaduhan, Bagaimana Tanggapan Bapak Ibu Guru ?

Senin, 10 Mei 2021

Opinirakyat.org - Hari ini merupakan peringatan hari pendidikan nasional (hardiknas). Seiring perkembangan teknologi yang meningkat pesat, pendidikan Indonesia saat ini masih dinilai suram.


Hal itu diungkapkan oleh Pengamat Pendidikan, Indra Charismiadji. Ada beberapa faktor yang dibeberkan, pertama yakni pembelajaran Indonesia yang belum berkembang, padahal teknologi sudah sangat modern.


"Kemendikbud saat ini kan seakan-akan memimpin sebuah pandangan kalau belajar daring itu negatif, dalam penjelasannya semua kan seperti itu tidak ada tatap muka dampaknya negatif warning lost dan lain sebagainya. Padahal sekarang kan era digital harusnya daring itu efektif, kita berharap sebetulnya kemendikbud ini yang diambil bukan dari orang pendidikan, yang dari perusahaan teknologi kita berharap bisa membawa pola belajar Indonesia dari digital kan," ujar Indra, kepada wartawan, Sabtu (1/5/2021).


Indra menyebut bukti dari ketidakmampuan mengubah pembelajaran menjadi digital yakni kegiatan PJJ yang diterapkan selama pandemi. Dia menilai pemerintah gagal.


"Pendidikan kita sangat suram karena tidak ada upaya untuk membenahi PJJ. Saya pribadi bisa membuktikan kalau PJJ bisa efektif, tapi ya tentunya caranya nggak seperti dulu, dengan cara ceramah, ngasih PR, ulangan, udah nggak gitu lagi," ujarnya.


"Saya menggerakkan kegiatan guru cerdas untuk mengajar daring secara optimal, dan itu bisa dilakukan, kalau Kemendikbud yang dipercaya ngurus pendidikan malah angkat tangan kan tambah lucu lagi. 


Kita yang tanpa anggaran bisa membuat perubahan mereka yang anggarannya Rp 80 T nggak bisa buat perubahan buat apa," lanjut Indra.


Indra kemudian menyoroti kinerja Nadiem Makarim yang selama 18 bulan memimpin sektor pendidikan. Indra mengatakan kinerja Nadiem hanya membuat kegaduhan.


"Catatan kedua adalah 18 bulan Nadiem Makarim memimpin kemendikbud yang ada adalah kegaduhan demi kegaduhan, semua kebijakannya membuat gaduh," ujarnya.


Indra mengatakan kegaduhan itu timbul karena kebijakan yang dibuat Nadiem tanpa adanya riset atau kajian akademis. Bahkan menurutnya, tidak ada pelibatan publik di setiap kebijakan itu.


"Sebetulnya kalau kita mau evaluasi kenapa buat gaduh itu ada jawabannya, pertama semua kebijakan beliau tidak menggunakan kajian akademis, nggak ada riset. Jadi tiba-tiba turun dari langit, tiba-tiba bikin sekolah penggerak, tiba-tiba bikin merdeka belajar, sampai sekarang nggak ada kajian akademis, kalaupun ada nggak ditunjukkan," ucapnya.


"Kalau nggak ada kajian akademis, pelibatan publik juga nggak ada. Kalau ada pelibatan publik nggak mungkin semua kebijakannya diprotes," imbuhnya.


Lebih lanjut, Indra merasa heran Nadiem yang ketika membuat kebijakan tanpa riset tapi malah kembali diangkat dengan kewenangan yang bertambah, yakni mengurusi riset teknologi. Diketahui saat ini Kemendikbud dilebur menjadi Kemendikbud-Ristek.


"Lebih aneh lagi dengan kondisi nggak pernah melakukan riset dalam melakukan kebijakan sekarang dikasih lagi tugas untuk urusi riset dan teknologi. Aneh menurut saya orang yang 18 bulan membuat kebijakan tanpa riset dipercaya untuk urusi ristek. 


Orang yang ditugaskan membangun SDM tidak percaya kalau SDM dibangun, coba kita lihat eselon I beliau orang luar semua bukan orang dari dalam Kemendikbud sendiri," ujarnya.


"Kalau selama 18 bulan waktu energi hanya dipakai untuk klarifikasi untuk memadamkan api terus kapan ngurus pendidikannya jadi ini kondisi yang menurut saya sangat suram," lanjut Indra.


Indra khawatir tahun 2024 yang ditargetkan mendapat bonus demografi tapi malah menjadi bencana demografi. Hal itu disebabkan karena sistem pendidikan saat ini yang dinilai belum beres.


"Terakhir ini dibiarkan sampai 2024, yang kita temui adalah lost generation, kita kan punya mimpi bonus demografi tapi yang kita dapatkan adalah bencana demografi, 2024 nggak kelihatan tapi 2034 baru kelihatan, karena saat itu lah mereka sudah menjadi usia produktif, " ujarnya.


sumber; news.detik.com